Di tengah pasar makanan cepat saji Indonesia yang masih dikuasai ayam goreng , hadir brand ayam baru bernama Almaz Fried Chicken. Pemain anyar ini tengah mencuri perhatian di tengah gelombang boikot terhadap merek-merek Barat.
Meski baru diluncurkan 18 bulan lalu, Almaz sudah merambah lebih dari 140 gerai. Mereka menargetkan konsumen yang ingin menikmati ayam goreng renyah lengkap dengan nasi atau kentang goreng.
Tidak seperti McDonald’s dan KFC, Almaz menghadirkan cita rasa ayam Saudi yang khas.
Mulai dari bumbu rempah yang kaya rasa hingga metode memasak yang autentik. Membuat setiap gigitan terasa berbeda dan meninggalkan kesan eksotis bagi lidah orang Indonesia.
Ditengah maraknya momentum boikot brand yang terafiliasi dengan israel, apakah bisnis almaz fried chicken mampu menantang dominasi pemain lama? Untuk menjawabnya, kami menelusuri jejak bisnis Almaz. Mulai dari konsep yang membawa sentuhan Saudi hingga strategi pemasaran yang memanfaatkan sentimen sosial. Mari kita bahas..

Cerita di balik lahirnya Almaz Fried Chicken & cita rasa ala Timur Tengah
Almaz Fried Chicken bukan produk Riyadh ataupun Arab Saudi, melainkan murni kreasi Anak Indonesia, didirikan oleh Okta Wirawan pada 14 Juni 2024 di Bekasi, Jawa Barat. Nama “Almaz” sendiri berarti “berlian” (الْمَاس) dalam bahasa Arab, melambangkan kemewahan dan ketahanan.
Okta Wirawan, 43 tahun, asal Bogor dan lulusan IPB jurusan keuangan angkatan 2004, memulai kariernya di ritel seperti Carrefour dan Trans Retail, sebelum beralih ke F&B di Wingstop Indonesia. Selanjutnya, pada 2017 ia mendirikan PT Abuya Berkah Indonesia (Abindo), yang menjadi induk Nasi Kebuli Abuya dan sejumlah produk halal populer, di mana ia kini menjabat sebagai CEO.
Ide Almaz ini lahir dari pengalaman pribadi Wirawan selama di Arab Saudi. Di sana, ia jatuh hati pada ayam goreng legendaris Albaik, yang terkenal dengan bumbu bawang putih dan daging yang juicy serta beraroma rempah kuat.
Okta Wirawan menjelaskan, proses menciptakan ayam Almaz bukan sekadar copy-paste. Mereka melakukan reverse-engineering dari resep ayam Khas Saudi, lalu menyesuaikan bumbu dan teknik pemasakan melalui banyak pengujian di dapur. Hasilnya ayam mereka bisa tetap juicy dan sangat cocok dengan lidah lokal, apalagi saat digigit kulitnya terasa renyah tapi nggak keras.
Disamping itu, Okta Wirawan sang pendiri juga menekankan prinsip profit with purpose di bisnis ini.
Lima persen dari pendapatan Almaz dialokasikan untuk bantuan Palestina dan program amal lokal, dikemas sebagai “amal jariyah” atas nama ibunya.
Karena itu, bisnis ini bukan hanya soal rasa dan pengalaman makan, tetapi juga mengubah konsumsi menjadi aksi sosial yang bermakna..
Strategi Gerai Mandiri oleh Almaz Fried Chicken
Almaz memilih strategi gerai mandiri untuk membangun identitas makanan cepat saji mereka. Setiap lokasi dirancang bersih, ber-AC, dengan fasilitas seperti mushola, playground anak, dan seating luas untuk makan bersama (rombongan). Meski belum punya drive-thru, pelanggan tetap bisa menikmati ayam goreng Almaz di rumah karena layanan delivery lewat Gojek, Grab dan Shopee food. Sehingga penetrasi pasar tetap luas, terutama di area padat tanpa harus membuka gerai tambahan.
Untuk menu makanan nya sendiri, Almaz menata menu mereka dengan strategi affordable premium.
Ayam goreng original dan pedas dijual Rp18–25 ribu per potong, paket kombo dengan nasi atau kentang goreng mulai Rp35 ribu, lengkap dengan minuman inovatif seperti teh infused. Mereka juga menawarkan beberapa menu lain seperti burger & rice bowl untuk pelanggan yang ingin makan cepat.
Banyak gerai = Tantangan Operasional Mengintai
Ekspansi cepat Almaz Fried Chicken dalam hitungan bulan, puluhan gerai baru berdiri seolah tanpa jeda menjadi sorotan publik.
Di satu sisi, pertumbuhan agresif ini menunjukkan brand berhasil menangkap tren konsumen yang haus pilihan lokal halal.
Tapi di balik angka impresif itu, ada risiko operasional yang serius.
Mengelola ratusan gerai dalam waktu singkat menuntut rantai pasok yang solid, kualitas konsisten, dan tenaga kerja yang terlatih.
Setiap celah bisa berarti kenaikan biaya bahan baku, keterlambatan distribusi, hingga standar pelayanan yang menurun.
Apalagi di tengah kompetisi sengit, pemain global seperti KFC yang sudah lama menguasai pasar lewat pemasaran masif, Almaz Fried Chicken harus pintar-pintar menyeimbangkan ekspansi cepat dengan kualitas operasional, karena setiap kesalahan logistik atau standar pelayanan yang melorot bisa langsung dimanfaatkan pesaing untuk merebut konsumen yang tadinya loyal.
Singkatnya, Almaz punya momentum, tapi keberlanjutan pertumbuhan tidak hanya soal membuka gerai baru. Ini soal memastikan operasional nggak ambrol di tengah jalan, mulai dari supply chain yang rawan delay sampai manajemen staf yang kerap kewalahan.
Setiap gerai baru punya potensi masalah sendiri.. stok habis, kualitas makanan turun, layanan lambat dsb..
Jika tidak di maintain, semua masalah bisa menumpuk dan endingnya bikin pelanggan kabur karena mereka mulai ngerasa pelayanan lambat, kualitas produk turun, dan pengalaman yang dijanjikan cuma kalimat manis di brosur saja.
Almaz Fried Chicken, mutiara di tengah lautan ayam goreng
Almaz fried chicken memang punya explosive growth, cita rasa unik, dan model dine-in yang mirip dengan raksasa cepat saji.
Tapi belum terbukti mampu bertahan jangka panjang menghadapi persaingan ketat, terutama dari pemain lama yang punya loyalitas pelanggan tinggi dan jaringan distribusi yang lebih kuat.
Almaz harus membuktikan kapasitas mereka untuk skala berkelanjutan, manajemen supply chain yang solid, dan pengalaman pelanggan yang benar-benar unggul jika ingin bertahan lebih dari sekadar viral trend.
Untuk para investor yang mengincar franchise Almaz, ini bisa jadi investasi berisiko tinggi namun berpotensi untung besar, terutama jika berhasil menempatkan gerai di lokasi strategis. Karena area strategis biasanya punya traffic yang stabil dan potensi pelanggan yang besar.
Jika kamu suka analisis bisnis begini, kamu wajib lihat juga artikel soal
Gak perlu banyak modal, 1jt udah cukup buat buka usaha kuliner