Pasar layanan kesehatan gigi di Indonesia terus berkembang pesat.
Proyeksi menunjukkan nilai pasar dapat menembus 4 miliar dolar AS pada 2026, seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan gigi, tren estetika seperti veneer dan aligner, serta daya beli kelas menengah yang kian menguat.
Dalam dinamika tersebut, kompetisi klinik gigi berjejaring mulai memasuki babak baru.
OMDC (Oktri Manesa Dental Clinic) menjadi pemain awal yang membuka jalan. Didirikan pada 2014, jaringan ini dikenal dengan konsep klinik bertema yang ramah keluarga, pelayanan berbasis reservasi terjadwal, serta misi sosial yang kuat. Strategi tersebut membuat OMDC membangun basis pasien yang loyal di sejumlah kota besar.
Beberapa tahun kemudian, hadir Satu Dental, yang memposisikan diri sebagai jaringan klinik gigi yang tumbuh paling cepat di Indonesia.
Hingga 2025, Satu Dental mengklaim telah memiliki lebih dari 51 lokasi, menonjolkan layanan modern satu pintu dengan harga terjangkau.
Konsep ekspansi agresif dan citra klinik yang lebih dekat dengan gaya hidup kaum urban menjadi strategi mereka untuk memperluas pangsa pasar.
Dengan pasar yang masih besar untuk digarap, persaingan kini mengerucut pada dua pendekatan berbeda.
Satu Dental datang sebagai penantang dengan skala ekspansi yang mengejar efisiensi dan kemudahan akses.
Di sisi lain, OMDC mengandalkan “expreince class” berupa pengalaman pasien yang unik dan brand yang telah teruji selama satu dekade.
Apakah Satu Dental mampu menjadi pendatang disruptif yang menggeser kekuatan OMDC?
Atau justru keunggulan OMDC masih menjadi benteng yang sulit ditembus para pesaingnya?
Mari kita bahas!

Para Klinik Gigi Berlomba Menangani Krisis Kesehatan Gigi di Indonesia
Dimulai pada 2014 oleh drg. Oktri Manesa,
OMDC (Oktri Manesa Dental Clinic) membawa semangat pelayanan sosial yang kuat.
Konsep yang diusung terbilang berbeda dari klinik gigi konvensional:
suasana klinik dibuat lebih bersahabat, mulai dari desain bertema bakery atau bioskop hingga dominasi warna cerah seperti glow-pink.
Bagi pasien anak, OMDC menghadirkan area bermain untuk mengurangi rasa takut.
Mereka juga mengelola Grow & Shine, layanan yang lebih fokus pada kebutuhan anak serta pengembangan kebiasaan kesehatan gigi sejak dini.
Untuk menjangkau kalangan rentan, OMDC menjalankan OMDC Peduli, menyediakan layanan gratis bagi masyarakat kurang mampu.
Tersebar di 17 lokasi, termasuk health hub, jaringan ini mampu melayani 9.000–10.000 pasien per bulan didukung lebih dari 100 dokter gigi spesialis.
Model reservasi tanpa antri merupakan bagian dari strategi inklusif mereka
Sementara itu, Satu Dental tampil sebagai penantang dengan strategi ekspansi yang agresif.
Hingga 2025, jaringan ini telah memiliki lebih dari 51 outlet yang tersebar di Jabodetabek dan Surabaya.
Konsep kliniknya mengusung desain minimalis-modern yang terasa seperti “rumah sendiri”.
Satu Dental mendorong pengalaman yang bebas stigma negatif dokter gigi, terutama bagi pasien dewasa muda yang selama ini menghindari perawatan gigi karena takut ditagih dengan biaya tinggi.
Teknologi masa kini menjadi andalan Satu Dental, seperti digital X-ray, laser dentistry, hingga one-stop treatment untuk kebutuhan estetika seperti behel, bleaching, veneer, hingga implan.
Dengan dukungan lebih dari 350 dokter gigi, Mereka memperkuat akses jaringan nya melalui fasilitas pembayaran fleksibel.
PayLater dan kerja sama asuransi.
Dalam demand yang terus tumbuh cepat, kedua pemain menawarkan solusi atas masalah yang sama: layanan yang lebih manusiawi, terjangkau, dan mudah diakses.
Bedanya, OMDC menekankan empati sosial dan diferensiasi pengalaman, sedangkan Satu Dental fokus pada skala, teknologi, dan kedekatan dengan gaya hidup urban modern.
Perbandingan Model Partnership yang Ditawarkan
| Satu Dental | OMDC | |
| Modal Awal (Setup Cabang) | Rp1,2–1,8 Miliar (desain sederhana, tech digital X-ray, stok dasar) | Rp1,8–2,5 Miliar (termasuk tema custom, playground, peralatan spesialis anak) |
| Franchise Fee (Estimasi) | Rp200–400 juta | Rp300–500 juta |
| Royalti Bulanan | 3–5% omzet | 4–6% omzet |
| Biaya Renovasi & Fasilitas | Rp400–600 juta | Rp800 juta–1,2 M |
| Peralatan & Stok Awal | Rp300–500 juta (scaling laser, bleaching kit, aligner basic) | Rp500–700 juta |
| Training & SOP | Rp30–70 juta | Rp50–100 juta |
| BEP (Break Even Point) | 18–30 bulan | 24–36 bulan |
| ROI Tahunan (Estimasi) | 25–40% | 20–30% |
**Angka merupakan Estimasi. berdasarkan data industri dari Asosiasi Dokter Gigi Indonesia (PDGI), laporan ekspansi chain serupa, dan wawancara mitra (non-publik). Omzet rata-rata cabang: OMDC Rp150–280 juta/bulan; Satu Dental Rp180–350 juta/bulan. Belum ada data resmi franchise, jadi angka ini hanya proyeksi sementara
Pasar ramai, namun persaingan bisnis klinik gigi juga makin ketat
Selain dua pemain utama ini, terdapat jaringan lain seperti Audy dengan lebih dari 40 cabang dan Joy Dental yang mulai memperkuat ekspansi regionalnya. Namun pertarungan OMDC dan Satu Dental menggambarkan dua pendekatan yang kini bertemu pada persimpangan. Yang satu membangun kedekatan emosional dari bawah ke atas. Yang lain mendorong penetrasi pasar dari skala dan teknologi. Kini keduanya bersinggungan di arena yang sama.
Dengan meningkatnya permintaan layanan estetika dan pencegahan, pemenang jangka panjang kemungkinan adalah pihak yang mampu menggabungkan empati, skala, dan kecanggihan layanan secara bersamaan.
Siapa yang Unggul?
Dari sisi momentum ekspansi dan kesiapan menangkap pasar baru, Satu Dental kami beri skor 8/10.
Bisnis mereka menarik bagi investor yang mengincar pertumbuhan cepat terutama di kawasan penyangga kota besar.
Sementara OMDC kami beri skor 7,7/10 berkat loyalitas pasien dan diferensiasi konsep,
cocok bagi investor yang menilai keberlanjutan dan misi sosial sebagai prioritas.
Pasar senilai 4 miliar dolar AS masih cukup luas untuk dua pendekatan tersebut berjalan berdampingan.
Namun jika kecepatan menjadi penentu, Satu Dental berpotensi melampaui OMDC pada 2030.
Dalam beberapa tahun ke depan, kolaborasi atau aksi akuisisi bukan hal yang mustahil, karena bisnis senyum di Indonesia baru mulai menunjukkan taringnya.