Ongkir Gojek & Grab Instant makin mahal di marketplace? Tenang, ada jalan keluarnya

Grab instant Analisis biaya kirim GoSend: Bedah strategi operasional, penetapan harga, dan persaingan jasa pengiriman instant Gojek. Temukan insight bisnis logistik di siapberbisnis.biz.id

Di tengah pesatnya pertumbuhan e-commerce Indonesia, pengalaman belanja online sekarang tak lagi terasa menyenangkan seperti jaman dulu.
Sensasi belanja sekali klik kini kerap berujung pada keterkejutan di halaman pembayaran.
Layanan pengiriman instan yang dulu identik dengan murah dan cepat sampai lewat Gojek atau Grab Instant, perlahan berubah menjadi biaya tambahan yang terasa seperti “pajak kemewahan”.

Dalam dua tahun terakhir, tarif pengiriman instan di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya mengalami lonjakan signifikan.
Bahkan di beberapa rute dan jam tertentu mengalami kenaikan hingga dua kali lipat. Kondisi ini memicu keluhan konsumen yang mulai menimbang ulang kebutuhan belanja mereka apakah harus di antar dengan metode pengiriman instan.

Pertanyaannya kini bukan lagi sekadar soal kecepatan. Melainkan apakah kenyamanan pengiriman instan masih sepadan dengan biaya yang harus dibayar? Di tengah perubahan lanskap e-commerce, konsumen Indonesia kelas menengah tampaknya sedang berada di fase evaluasi ulang, memilih antara efisiensi waktu atau efisiensi dompet.

Mengapa Ongkir Gojek & Grab Instant Bisa Semahal Ini? Siapa yang Sebenarnya Menaikkan Harga?

Jika ditelisik lebih dalam, lonjakan ongkos kirim instan bukan semata akibat “aplikasi yang serakah”.
Realitasnya jauh lebih kompleks dan melibatkan tekanan berlapis di sepanjang rantai bisnis.

Dari sisi penyedia layanan, Gojek & Grab beberapa tahun terakhir secara bertahap menaikkan tarif dasar untuk menutup meningkatnya biaya operasional. Faktor kepadatan kota menjadi penentu utama. Di wilayah dengan permintaan tinggi seperti Jakarta, tarif terdongkrak oleh kemacetan, harga bahan bakar, serta kebutuhan insentif pengemudi menjadi dasar kenapa terjadi kenaikan harga.

Model penetapan harga Gojek, misalnya, secara eksplisit mengaitkan tarif dengan tingkat kepadatan permintaan, membuat ongkir di kawasan metropolitan jauh lebih mahal dibandingkan daerah non-perkotaan.

Tekanan regulasi turut memperberat situasi. Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan mendorong skema pendapatan yang lebih adil bagi pengemudi ojek online. Dampaknya, sebagian beban biaya dialihkan ke konsumen.

Ironisnya, persaingan ketat antara Gojek dan Grab justru ikut mendorong kenaikan biaya. Perang memperebutkan pasar ride-hailing dan pengantaran membuat insentif pengemudi dipangkas secara bertahap. Untuk menjaga ketersediaan mitra pengemudi, platform kemudian menaikkan tarif dasar. Isu potensi merger yang berembus sejak awal 2025 menambah kekhawatiran konsumen, karena berkurangnya kompetisi antar bisnis dinilai dapat membuka ruang penetapan harga yang lebih agresif.

Di tengah situasi yang pelik ini, lagi-lagi konsumen menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya..

Mau tetap kirim instant tapi gak mengancam isi dompet? Ini jalan pintasnya

Bagi konsumen yang tidak bisa berkompromi soal kecepatan pengiriman, Shopee Instant mulai diposisikan sebagai solusi alternatif. Layanan pengiriman internal milik Shopee ini kian diminati karena dinilai lebih stabil secara tarif dan kompetitif dibandingkan layanan gojek & grab instant pihak ketiga.

Shopee Instant merupakan bagian dari strategi hyperlocal Shopee yang diperkuat dalam dua tahun terakhir. Layanan ini menjanjikan waktu pengantaran di bawah empat jam untuk wilayah perkotaan utama seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung. Untuk menekan biaya, Shopee memanfaatkan jaringan kurir non-tradisional, mulai dari pensiunan, ibu rumah tangga, hingga mahasiswa, yang direkrut secara fleksibel berbasis area.

Dari sisi tarif, Shopee Instant menawarkan ongkir di kisaran Rp20 ribu hingga Rp40 ribu. Angka ini dinilai jauh lebih rendah dibandingkan ongkir instan Gojek atau Grab untuk rute serupa. Sejumlah uji coba internal Shopee di Indonesia juga menunjukkan dampak signifikan. Rata-rata waktu pengiriman bisa turun hingga dua hari serta biaya logistik per pesanan lebih efisien 16% dari sebelumnya.

Meski jangkauannya belum merata di seluruh kota, kehadiran Shopee Instant menunjukkan arah baru dalam strategi bisnis marketplace. Alih-alih bergantung pada pemain besar layanan ride-hailing, platform marketplace mulai membangun ekosistem logistik sendiri demi mengontrol biaya, kecepatan, berbelanja penggunanya

Gak bisa pakai Shopee? Turunin ekspektasi, pilih Same-Day biar tetap hemat

Di luar layanan instant, opsi same-day kini kembali dilirik sebagai jalan tengah bagi konsumen yang ingin menekan ongkos kirim tanpa harus menunggu berhari-hari. Layanan ini tetap tersedia melalui integrasi Gojek dan Grab di berbagai marketplace besar, dengan waktu pengantaran yang agak lebih lama dari pengiriman instant.

Gojek, misalnya, menawarkan SameDay-Bike dengan estimasi pengiriman 6 hingga 8 jam untuk jarak hingga 75 kilometer. GrabExpress memiliki skema serupa. Dari sisi biaya, tarif same-day umumnya 30 hingga 50 persen lebih murah dibandingkan layanan instant, menjadikannya pilihan yang lebih masuk akal bagi pembeli dengan anggaran terbatas.

Kompromi yang ditawarkan cukup jelas yaaa. Konsumen harus sabar menunggu beberapa jam lebih lama sebagai imbalan penghematan ongkir yang signifikan. Strategi ini dinilai ideal untuk pembelian yang tidak bersifat mendesak, seperti pakaian, aksesori, atau perangkat elektronik.

Di tengah lonjakan tarif pengiriman gojek & grab instant, penyesuaian ekspektasi waktu pengiriman menjadi bentuk adaptasi konsumen.

Alih-alih mengejar kecepatan maksimal, semakin banyak pembeli memilih efisiensi biaya sebagai pertimbangan utama dalam berbelanja online.

Dengan ongkir gojek & grab instant yang setinggi ini, apakah artinya konsumen dipaksa balik untuk belanja offline?

Di tengah lonjakan ongkos kirim instant, konsumen Indonesia mulai menunjukkan pola adaptasi baru. Sebagian mengandalkan Shopee Instant ketika kecepatan benar-benar dibutuhkan, sebagian lain menjadikan layanan same-day sebagai pilihan utama untuk menekan biaya.
Bahkan, opsi yang sempat ditinggalkan kini kembali dipertimbangkan yaitu berbelanja langsung di toko fisik.

Seiring menyusutnya nilai “kenyamanan” e-commerce marketplace, toko-toko offline di sekitar rumah menawarkan keunggulan yang sulit disaingi belanja daring. Tanpa ongkir & barang bisa langsung dibawa pulang.

Di sisi lain, integrasi mendalam Grab dan Gojek ke dalam ekosistem konsumsi justru mengubah cara masyarakat memaknai ongkos kirim. Biaya pengantaran tidak lagi dianggap sebagai pengeluaran terpisah, melainkan harus jadi bagian dari paket kenyamanan yang menyatu dengan transaksi belanja online itu sendiri. Selama beberapa tahun, biaya ini terasa ringan karena disubsidi. Ketika subsidi itu berkurang, barulah nilai sebenarnya muncul ke permukaan.

Perubahan ini mendorong konsumen di indonesia berubah menuju fase yang lebih rasional. Konsumen mulai membedakan antara kebutuhan yang memang menuntut kecepatan dan kebutuhan yang bisa menunggu atau bahkan dipenuhi secara offline. Belanja daring tidak ditinggalkan, tetapi digunakan lebih selektif, dan lebih bijak.

Dari sudut pandang ini, lonjakan ongkir bukan sekadar masalah mahal atau murah, melainkan sinyal bahwa era kenyamanan murah telah berakhir.

Ke depan, perilaku belanja diperkirakan bergerak ke arah keseimbangan baru, di mana efisiensi biaya, bukan kecepatan semata, menjadi pertimbangan utama dalam setiap keputusan konsumsi warga indonesia

Suka dengan artikel begini?, kamu wajib lihat juga artikel soal
Tempat ngopi hemat favorit warga, Familymart atau Indomaret?

Halo teman-teman, kali ini kita bahas seputar layanan pengiriman GoSend yang sering bikin bingung! Bedanya Gojek Instant dan Same Day apa sih? Tarif GoSend murah jam berapa ya? Kenapa pengiriman Instant kok terasa mahal banget? Lalu, kenapa Cargo justru lebih murah dibanding yang lain? Dan terakhir, Same Day maksimal jam berapa untuk ordernya? Yuk simak tips tips nya

Published: December 15, 2025

Picture of Muharram
Muharram
Redaktur siapberbisnis. Gamer part time, pengamat investasi keuangan & pemburu potensi bisnis baru

🤖 Konten ini dibantu oleh AI menggunakan berbagai Sumber berita. 
🧐 Editor kami melakukan pengecekan terakhir sebelum tulisan dipublikasi.

https://www.statista.com/outlook/dmo/ecommerce/indonesia – https://www.reuters.com/business/autos-transportation/indonesian-ride-hailing-drivers-protest-against-potential-gojek-grab-merger-2025-05-15/ – https://www.gojek.com/en-id/gosend/pricing – https://www.thejakartapost.com/business/2025/07/12/ojol-drivers-rally-against-high-app-fees.html – https://www.bloomberg.com/news/articles/2025-05-20/gojek-grab-merger-talks-spark-monopoly-fears-in-indonesia – https://www.grab.com/id/en/grabexpress/ – https://www.mordorintelligence.com/industry-reports/indonesia-e-commerce-market – https://www.gojek.com/en-id/gosend/sameday – https://www.grab.com/id/en/express/same-day/ – https://shopee.co.id/m/shopee-instant – https://www.cnbcindonesia.com/tech/2025/07/15/shopee-kenakan-biaya-proses-order-rp1250-ke-seller