Kisah Tragis Startup Juicero, Ketika Inovasi Berubah Jadi Lelucon Publik 🥲

Bedah total strategi bisnis Juicero: Investasi, kegagalan, dan peluang Food Tech untuk usaha minuman sehat di Indonesia. Pelajari insight di siapberbisnis.biz.id

Di antara deretan startup gagal paling legendaris dunia, Juicero menempati posisi paling spesial.
Juicero meluncurkan mesin jus pintar seharga Rp9 juta, tapi mesin itu cuma bisa melakukan satu hal yaitu memeras kantong buah yang sudah dipaketkan khusus, dan parahnya lagi, ternyata kantong itu bisa diperas pakai tangan biasa tanpa perlu mesin mahal tadi, sehingga semua klaim teknologi canggih, sensor berlapis, dan konektivitas WiFi di dalamnya langsung kelihatan konyol di mata semua orang..
investor sudah keburu menanamkan ratusan juta dolar, sementara konsumen yang mencoba merasa seperti ditipu..

Doug Evans, Sang pendiri Juicero

Sosok pendiri Juicero adalah Doug Evans, mantan pemilik jaringan juice bar mewah Organic Avenue di New York (dijual tahun 2012).
Evans punya visi jangka panjang yaitu bikin jus cold-pressed premium jadi semudah bikin kopi pakai Nespresso.
Caranya? dia kepikiran membuat mesin canggih sekaligus kantong buah potong yang sudah dicuci, dipotong & divakum.

Melihat ide itu, Investor langsung klepek-klepek.
Dalam 4 tahun mereka berhasil mengumpulkan modal hingga $120 juta, termasuk modal terakhir $70 juta yang disuntik oleh GV (Google Ventures).
Pitch deck mereka bilang: “Kami akan jadi platform kesehatan masa depan”

Bedah model bisnis Juicero dan Food Tech: Peluang usaha minuman sehat otomatis, inovasi, dan tantangan pasar. Temukan insight strategi di siapberbisnis.biz.id

Awal mula tragedi

Memasuki 2016, Juicero resmi meluncurkan produk andalannya, Juicero Press.
Meski berupa mesin pemeras jus, spesifikasinya terdengar layaknya perangkat industri. Beratnya mencapai 16 kilogram dan mekanismenya mampu memberikan tekanan setara 4 ton atau kurang lebih sama dengan kekuatan dorong gajah jantan dewasa.
Cara kerjanya sederhana: pengguna memasukkan kantong bahan jus khusus, menutup penutup mesin, menekan tombol, dan menunggu 3 hingga 5 menit hingga jus keluar.

Namun dalam praktiknya, muncul satu persoalan mendasar, ternyata kantong jus tersebut dapat diperas hanya dengan tangan kosong.
Tanpa listrik, tanpa Wi-Fi, dan tentu tanpa harus membeli perangkat yang dihargai sekitar Rp9 juta tersebut.

April 2017 menjadi titik terpuruk mereka.
Media besar bernama Bloomberg, merilis sebuah video demonstrasi sederhana.
Dalam video tersebut, reporter memeras kantong Juicero dengan tangan dalam waktu kurang dari satu menit, menghasilkan jus yang kualitasnya tidak berbeda dari mesin juicero lakukan.
Tayangan itu langsung viral dan memicu gelombang kritik publik. Banyak warganet menjuluki Juicero sebagai “mesin paling tidak berguna setelah Segway”

Pihak Juicero merilis pernyataan resmi dan menilai metode perasan dengan tangan dianggap “tidak higienis dan berpotensi berbahaya”.
Namun respons itu tidak mampu menghentikan banjir meme di media sosial.
Komedian kondang asal amerika Jimmy Fallon bahkan mengangkatnya sebagai bahan canda dalam program televisi malamnya.

Dalam waktu singkat, reputasi Juicero runtuh.
Dari simbol inovasi mahal Silicon Valley, berubah menjadi contoh kegagalan startup yang dinilai kurang memahami kebutuhan nyata konsumen.

Akhir tragis Juicero. Rugi besar akibat Mesin yang tidak laku

Memasuki Desember 2017, perjalanan Juicero tiba pada babak terakhir.
Setelah dilanda kritik publik dan merosotnya penjualan, perusahaan akhirnya menghentikan seluruh operasional.
Sekitar 70 karyawan terpaksa dirumahkan, sementara aset perusahaan dilelang dengan harga jauh di bawah nilai awalnya.

Padahal, sepanjang masa beroperasi, Juicero telah menerima pendanaan lebih dari 1,9 triliun rupiah (sekitar 120 juta dolar AS).
Pertanyaan besar pun muncul: ke mana seluruh dana itu mengalir?

Data internal memperlihatkan beberapa pos pembiayaan yang membengkak:

  • Produksi mesin menelan biaya lebih dari 20 juta dolar AS.
    Bahkan Juicero sampai memindahkan manufaktur ke Tiongkok karena biaya produksi di AS terlalu tinggi.
  • Bahan baku kantong jus turut menimbulkan kerugian.
    Banyak pasokan buah dan sayur segar rusak begitu saja di gudang karena distribusi yang tak sebanding dengan permintaan pasar.
    Nilainya mencapai puluhan juta dolar.
  • Biaya pengiriman dengan mesin pendingin ke seluruh Amerika Serikat membengkak menjadi ratusan ribu dolar per pekan.
  • Biaya sumber daya manusia ikut menjadi beban berat.
    Perusahaan menggaji lebih dari 100 karyawan di San Francisco dengan rata-rata kompensasi sekitar 150 ribu dolar per tahun.
  • Belanja pemasaran dan influencer mencapai nilai fantastis, bahkan sempat direncanakan untuk memasang iklan di acara “Super Bowl” yang akhirnya dibatalkan.

Kenyataannya, Juicero hanya berhasil menjual sekitar 7.000 unit, padahal mereka telah memproduksi 25.000 unit mesin.
Sisa perangkat menumpuk tanpa kepastian nasib.

Keputusan menutup usaha pun menjadi tidak terelakkan.
Juicero kini dikenal sebagai salah satu contoh paling mencolok kegagalan startup berbiaya mahal yang abai terhadap realitas pasar.

Pelajaran Mahal bagi Ekosistem Startup

Kisah Juicero memberi peringatan bagi para pelaku startup, termasuk di Indonesia,
tentang pentingnya memahami perilaku konsumen sebelum memaksa mereka mengadopsi kebiasaan baru.

Pertama, jangan menciptakan solusi untuk masalah yang sebetulnya tidak dirasakan masyarakat.
Konsumen sudah dapat membuat jus hanya dengan blender berharga ratusan ribu rupiah. Ketika alternatif yang jauh lebih murah dan mudah sudah tersedia, sulit bagi teknologi mahal untuk menawarkan nilai lebih.

Kedua, tidak semua fitur berteknologi tinggi berujung pada manfaat nyata.
Wi-Fi, pemindaian QR, hingga tenaga setara 4 ton ternyata tidak membuat cita rasa jus lebih baik.
Teknologi seharusnya menjadi alat pemenuh kebutuhan konsumen, bukan sekadar pajangan inovasi.

Ketiga, tidak bijak terlalu mengandalkan euforia investor.
Sebagus apa pun sorotan media dan sekuat apa pun dorongan pendanaan, pertanyaan utamanya tetap sama:
adakah konsumen yang akan membeli produk tersebut setiap hari?

Keempat, pentingnya konsep Minimum Viable Product (MVP).
Andai Juicero lebih dulu menguji pasar dengan menjual kantong jus tanpa mesin, model bisnisnya mungkin dapat bertahan lebih lama dan berkembang sesuai permintaan pasar.

Kegagalan Juicero menjadi cermin bahwa startup tidak cukup hanya mengandalkan ide besar dan modal besar. Pemahaman pasar, fokus pada kebutuhan konsumen, dan strategi eksekusi yang realistis merupakan kunci untuk bertahan, terutama di tengah kompetisi yang semakin ketat.

Secara bisnis, Kami memberi nilai 1 dari 10 untuk Ide & eksekusi bisnis mereka.
Namun sebagai pengingat bagi dunia startup, kami beri nilai 10 dari 10.

Juicero mengajarkan bahwa inovasi tanpa pemahaman pasar justru dapat menjadi bumerang.

Pesannya sederhana: jangan terjebak membangun produk hanya karena terlihat futuristik atau “keren” di hadapan investor.
Yang terpenting, konsumen benar-benar membutuhkannya.

Juicero telah menjadi contoh ekstrem.
Tantangannya kini adalah memastikan tidak ada lagi “Juicero berikutnya” lahir di industri yang sama.
CEO dan pendiri startup dituntut lebih mendengar pasar daripada sekadar mengejar narasi teknologi yang memukau.

Kamu pasti penasaran sama drama startup legendaris yang sempat bikin heboh dunia teknologi ini, Juicero. Nah pertanyaanya, Apakah Juicero masih ada? Mengapa Juicero gagal? dan Berapa harga paket Juicero pada waktu itu?? Yuk kita bongkar satu per satu cerita kegagalan epik ini, dijamin bikin geleng-geleng kepala!

Published: December 8, 2025

Picture of Muharram
Muharram
Redaktur siapberbisnis. Gamer part time, pengamat investasi keuangan & pemburu potensi bisnis baru

🤖 Konten ini dibantu oleh AI menggunakan berbagai Sumber berita. 
🧐 Editor kami melakukan pengecekan terakhir sebelum tulisan dipublikasi.

https://medium.com/the-launch-path/the-launch-path-a-case-study-f3f72f141845, https://www.theguardian.com/technology/2017/sep/01/juicero-silicon-valley-shutting-down, https://www.forbes.com/sites/maryjuetten/2018/11/27/failed-startups-juicero/, https://www.codemotion.com/magazine/dev-life/stories/the-downfall-of-juicero-the-overhyped-high-tech-juicer/, https://thevcfactory.com/juicero-doug-evans-venture-capital-failure/, https://activate.org/news/lessons-from-a-failed-juicer-startup-on-the-power-of-entrepreneurial-community, https://aithor.com/essay-examples/the-failure-of-juicero-a-case-study-on-over-engineering-and-pricing, https://www.manufacturinghub.io/product-design/why-this-hardware-startup-failed-after-raising-100-million-in-funding/, https://money.cnn.com/2017/09/01/technology/business/juicero-shuts-down/index.html, dan https://productmint.com/what-happened-to-juicero/.

Artikel Terkait

Tidak ada artikel terkait.