Industri makanan beku atau frozen food di Indonesia terus menunjukkan kenaikan.
Nilai pasar yang saat ini diperkirakan mencapai 6,1 miliar dolar AS pada 2034 sudah memberi sinyal bahwa sektor ini bukan lagi sekadar industri pelengkap.
Bagi banyak konsumen, keberadaan Prima Freshmart dan Kios Unggas sering dianggap sebagai persaingan alami antar pelaku ritel minimarket modern.
Namun hasil penelusuran kami memperlihatkan fakta lain.
Dua merek yang tampak berlawanan konsep tersebut justru dikelola oleh satu grup usaha yang mengatur strategi ekspansi keduanya secara terpadu.
Di balik dua brand ritel ini, ada raksasa bernama PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN)
Pengendali utama kedua jaringan tersebut adalah PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN).
Perusahaan yang sejak 1991 tercatat di Bursa Efek Indonesia.
Perusahaan ini berdiri pada 7 Januari 1972 sebagai bagian dari Charoen Pokphand Group asal Thailand.
Pada masa awal operasi, CPIN dikenal melalui produksi pakan ternak, sektor yang berkembang pesat seiring dorongan modernisasi pertanian Indonesia era 1970–1980-an.
Memasuki awal 1990-an, termasuk saat krisis menghantam kawasan Asia, CPIN memperluas portofolio melalui akuisisi kompetitor serta ekspansi ke bisnis bibit ayam (DOC), peternakan broiler, hingga rumah potong unggas.
Diversifikasi berlanjut pada 2000-an dengan masuk ke industri makanan olahan, termasuk produk populer seperti “Fiesta Nugget” yang menjadikan CPIN pemain terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Pada awal 2010-an, CPIN membuka tahap baru dengan memasuki ritel modern.
Prima Freshmart hadir sebagai minimarket protein segar dan beku dengan konsep keluarga.
Pada 2019, CPIN menambah lini baru melalui Kios Unggas, gerai kecil berkonsep cepat dan terjangkau yang tumbuh pesat saat pandemi mendorong permintaan produk higienis dan praktis.
Hingga 2025, jaringan produksi CPIN telah mencakup fasilitas pembibitan, peternakan broiler, dan rumah potong unggas yang tersebar di lebih dari 20 provinsi.
Struktur terintegrasi ini membuat perusahaan mampu menjaga suplai ayam nasional dalam skala jutaan ekor per hari, sekaligus menekan biaya distribusi.

Apa alasan di balik strategi Dua Label ini?
Ekspansi CPIN bukan sekadar memperbanyak gerai.
Perusahaan menerapkan strategi segmentasi yang memadukan dua pendekatan ritel yang memiliki goal berbeda:
- Prima Freshmart mengincar keluarga urban, menyediakan ayam, daging olahan, sayuran, hingga makanan siap saji di gerai berpendingin.
- Kios Unggas fokus pada pembeli impulsif melalui kios ringkas yang menawarkan ayam potong segar dan telur dengan harga kompetitif.
Langkah ini diarahkan untuk menggeser dominasi pasar tradisional yang selama ini menguasai sekitar 70% penjualan unggas nasional.
Mereka menawarkan produk bersertifikasi halal, memiliki jejak rantai pasok yang jelas, dan lebih stabil dari sisi harga.
Model bisnis terintegrasi dari pabrik pakan hingga jaringan ritel membuat CPIN mengendalikan hampir seluruh rantai produksi.
Struktur ini menekan ketergantungan pada pemasok luar dan memberi ruang bagi perusahaan untuk menjaga stabilitas harga, sekaligus memperluas portofolio produk dari potongan ayam dasar hingga varian premium.
Pertumbuhan gerai kedua brand ini berlangsung cepat.
Dari sekitar 500 lokasi pada 2015, jumlahnya melonjak menjadi lebih dari 2.480 outlet pada 2024.
Dokumen internal perusahaan menyebutkan target ambisius: 10.000 gerai pada 2030.
Apakah Strategi CPIN Ini Efektif?
Kontribusi ritel terhadap pendapatan CPIN terus meningkat.
Data hingga akhir 2025 menunjukkan sektor ini menyumbang 15–20% dari total pendapatan perusahaan yang kini mencapai sekitar 4,2 miliar dolar AS.
Pertumbuhannya konsisten di kisaran 28% per tahun dalam lima tahun terakhir, bahkan di tengah tekanan harga pakan akibat fenomena El Niño.
Para mitra usaha melaporkan margin kotor 25–35% dengan omzet harian toko matang berada di kisaran Rp4,5–8 juta, dan melonjak hingga Rp11–15 juta saat periode Lebaran 2025.
Rantai pasok perusahaan diperkuat lewat kemitraan dengan lebih dari 12.500 mitra budidaya di berbagai daerah.
Sementara penjualan digital melalui layanan online seperti GrabMart kini menyumbang sekitar 20%.
Meski demikian, tantangan tetap ada.
Wabah flu burung pada awal 2025 meningkatkan angka pemusnahan unggas hingga 25%.
Di sisi lain, kompetisi dari platform e-commerce turut menggerus sebagian penjualan.
Dengan jaringan distribusi yang tertata rapi dan skala produksi yang sulit ditandingi, CPIN tetap menjadi pemimpin pasar.
Melampaui Japfa dan kompetitor sekelasnya.
Dengan memanfaatkan dua kanal ritel yang saling melengkapi, CPIN mendorong transformasi besar dalam distribusi hidangan ayam.
Mereka bahkan berhasil mengangkat hidangan ayam dari komoditas tradisional menjadi produk ritel modern yang hadir hingga ke lingkungan perumahan.
Jika kamu suka analisis bisnis begini, kamu wajib lihat juga artikel soal
Perjuangan Almaz Fried Chicken yang ingin Pecahkan Dominasi MCD & KFC