Di tengah dunia yang semakin digital dan berorientasi pada sistem keuangan, riwayat kredit kerap menjadi “paspor finansial” yang menentukan banyak hal. Bagi masyarakat Indonesia, pemahaman terhadap nilai sebuah profil kredit yang sehat menjadi semakin relevan, terutama di tengah pertumbuhan ekonomi yang mendorong kebutuhan pembiayaan rumah, kendaraan, hingga kebutuhan personal lainnya.
Secara sederhana, riwayat kredit merupakan catatan mengenai bagaimana seseorang mengelola dana pinjaman dari waktu ke waktu. Di Indonesia, data ini tercatat dan dipantau melalui Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK), yang sebelumnya dikenal sebagai BI Checking, serta lembaga kredit lainnya. Catatan tersebut mencerminkan apakah peminjam disiplin membayar cicilan atau justru kerap menunggak kewajiban.
Lalu, Mengapa membangun riwayat kredit itu penting dan sangat diperlukan?
#1, Biar pas ngajuin KPR, mobil, atau kartu kredit nggak langsung ditolak mentah-mentah
Manfaat paling nyata dari riwayat kredit yang sehat adalah akses pembiayaan yang lebih mulus untuk kebutuhan bernilai besar. Saat seseorang mengajukan KPR, kredit kendaraan bermotor, atau kartu kredit, bank akan terlebih dahulu menilai rekam jejak kredit pemohon. Sistem penilaian kredit tidak suka ketidakpastian. Riwayat yang buruk atau tidak ada sama sekali langsung dianggap berbahaya di mata bank atau lembaga pembiayaan.
Di Indonesia, kondisi ini menjadi semakin krusial seiring meningkatnya kebutuhan kepemilikan rumah di kawasan perkotaan. Tidak sedikit pembeli rumah pertama yang harus menunda rencana karena pengajuan KPR ditolak oleh bank-bank besar, semata-mata karena tidak memiliki riwayat kredit sebelumnya. Akibatnya, sebagian orang terpaksa beralih ke pinjaman informal dengan bunga lebih tinggi.
#2, Karena riwayat kredit bagus = bisa dapat bunga lebih rendah & cicilan jadi lebih ringan
Riwayat kredit yang baik tidak hanya meningkatkan peluang persetujuan, tetapi juga menentukan besaran bunga pinjaman. Lembaga keuangan umumnya memberikan suku bunga lebih rendah kepada debitur yang dinilai bertanggung jawab. Keuntungan ini berdampak langsung pada besaran cicilan bulanan dan biaya pelunasan yang diterima debiture tersebut menjadi lebih rendah dibanding debitur lain.
Pada kredit kendaraan, misalnya, debitur dengan skor kredit tinggi (bagus) berpeluang mendapatkan bunga 4–5 persen saja, sementara peminjam dengan riwayat sedang atau minim bisa dikenakan bunga 7 hingga 10 persen.
Data otoritas keuangan menunjukkan bahwa peminjam dengan profil kredit yang bagus, dapat menghemat hingga 15–20 persen dari total biaya pinjaman jangka panjang.
#3, Riwayat kredit bagus itu jadi tiket masuk buat dapetin limit pinjaman besar
Riwayat kredit yang bagus memungkinkan seseorang memperoleh limit pinjaman yang lebih tinggi. Bank dan lembaga pembiayaan menggunakan catatan historis untuk menentukan seberapa besar dana yang layak disalurkan. Semakin konsisten perilaku pembayaran, semakin tinggi tingkat kepercayaan yang diberikan.
Bagi pelaku usaha dan wirausahawan di Indonesia, hal ini memiliki dampak besar. Dengan kontribusi UMKM yang mencapai lebih dari 60 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), akses pembiayaan menjadi kunci pertumbuhan.
Selain itu, profil kredit yang kuat membuka akses individu tersebut ke level produk keuangan yang lebih premium. Mulai dari kartu kredit dengan berbagai fasilitas, hingga kredit fleksibel dengan tenor yang dapat disesuaikan. Tanpa riwayat kredit yang jelas dan konsisten, ruang gerak finansial seseorang otomatis menyempit. Akses ke pinjaman formal jadi lebih sulit, pilihan produk keuangan makin terbatas, dan pada akhirnya kita dipaksa menerima syarat pinjaman yang kurang ideal.
Jaga Riwayat Kredit Sejak Awal, Lebih Mudah Dibangun daripada Diperbaiki
Pada akhirnya, riwayat kredit yang buruk bukan hanya merugikan dalam jangka pendek, tetapi juga sulit dan memakan waktu lama untuk diperbaiki. Keterlambatan pembayaran atau kredit macet dapat meninggalkan jejak buruk selama bertahun-tahun.
Meskipun pada saat itu, kondisi keuangan kamu sudah membaik.
Karena itu, membangun riwayat kredit secara disiplin sejak awal jauh lebih bijak dibandingkan harus memulihkannya di kemudian hari.
Menjadikan riwayat kredit sebagai aset berarti memperlakukannya dengan serius dan bijak.
Pembayaran tepat waktu, pemantauan laporan SLIK setidaknya setahun sekali, serta kehati-hatian dalam mengambil utang adalah langkah dasar yang sering diabaikan. Padahal, kebiasaan kecil tersebut menentukan kemudahan akses pembiayaan, besaran bunga yang dibayarkan, hingga kekuatan finansial secara keseluruhan.
Di tengah ketidakpastian ekonomi, fondasi kredit yang kuat bukan lagi pilihan tambahan. Ia menjadi syarat penting bagi masyarakat yang ingin bergerak lebih leluasa, memanfaatkan peluang, dan menjaga stabilitas keuangan jangka panjang. Mulai dari langkah kecil hari ini, karena dampaknya akan terasa besar di masa depan.
Suka dengan artikel begini?, kamu wajib lihat juga artikel soal
Butuh uang cepat? Lebih Baik Pinjam Ke Tempat Gadai atau Daftar Pinjol?