Industri minimarket di Indonesia tengah memasuki fase pertumbuhan agresif.
Hingga 2023, jumlah gerai minimarket di Tanah Air telah menembus 40 ribu outlet.
Pendorong utamanya adalah urbanisasi, pertumbuhan kelas menengah, serta perubahan gaya hidup yang mengutamakan kepraktisan dan pengalaman. Minimarket bukan sekadar tempat belanja lagi, tetapi mulai berevolusi menjadi ruang sosial juga.
Di tengah dinamika tersebut, FamilyMart, jaringan convenience store asal Jepang, mencuri perhatian.
Sejak beberapa tahun terakhir, perusahaan ini mempercepat ekspansi di kota-kota besar. Jakarta, Bogor, Depok, Surabaya, Malang, hingga Bali menjadi titik pertumbuhan utama.
Mengapa FamilyMart Mampu Merebut Pasar Anak Muda Indonesia?
Perubahan arah FamilyMart untuk menyasar konsumen muda bukanlah kebetulan.
Strategi ini dibangun secara bertahap dan terlihat jelas dari konsep gerai yang terus berevolusi.
Di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya, pembukaan gerai baru kerap menarik perhatian, terutama di kalangan profesional muda dan mahasiswa yang mencari lebih dari sekadar tempat membeli makanan ringan.
Di tengah perubahan perilaku konsumen, FamilyMart berhasil membaca celah opportunity itu dengan tepat.
Kopi dengan harga terjangkau dan area duduk yang luas menjadi daya tarik utama kenapa banyak warga yang berkunjung ke sana.
Kombinasi itu mengubah gerai FamilyMart menjadi ruang kerja dadakan atau tempat bersantai, sesuatu yang masih jarang ditemui di minimarket pesaing seperti Indomaret dan Alfamart.
Ingat FamilyMart, Ingat 7-Eleven?
Model bisnis FamilyMart yang mengedepankan konsep nongkrong memunculkan deja vu bagi sebagian pelaku industri ritel.
Warga mungkin masih mengingat bagaimana 7-Eleven sempat menjadi fenomena di Indonesia pada awal 2010-an, sebelum akhirnya angkat kaki dari pasar Tanah Air.
Convenience store asal Amerika Serikat itu dengan cepat menjelma menjadi magnet anak muda.
Slurpee, hot dog, serta area duduk yang luas menjadikan 7-Eleven lebih dari sekadar minimarket.
Di Jakarta, gerai-gerainya ramai hingga larut malam, menawarkan suasana santai yang kala itu belum banyak ditiru pemain lokal.
Namun, kejayaan tersebut tidak bertahan lama.
Pada 2017, pemegang hak paten 7-Eleven di Indonesia menutup seluruh gerai nya yang ada di sini.
Sejumlah faktor disebut menjadi penyebab pembubaran ini.
Persaingan ketat dengan Indomaret dan Alfamart, biaya sewa lokasi yang terus melonjak, perlambatan ekonomi, hingga kegagalan membangun pola pembelian berulang dengan margin tinggi.
Regulasi kepemilikan asing yang makin ketat, serta jangkauan gerai yang terbatas di wilayah urban turut memperparah tekanan keuangan.
Lalu, apakah Famima akan bernasib sama?
Belum tentu.
Berbeda dengan pendekatan 7-Eleven yang relatif berdiri sendiri, FamilyMart hadir melalui kemitraan lokal yang memungkinkan adaptasi lebih cepat terhadap pasar Indonesia.
Penyesuaian produk, mulai dari sertifikasi halal hingga kolaborasi strategis dengan mitra ritel memberi fleksibilitas yang sebelumnya tidak dimiliki 7-Eleven.
Selain itu, FamilyMart lebih selektif dalam pemilihan lokasi.
Mereka fokus pada kawasan perkantoran dan daerah kampus yang dinilai memberi fondasi yang lebih stabil.
Karena penjualan makanan dan minuman menjadi motor utama pertumbuhan bisnis mereka.
Strategi itu sejauh ini menunjukkan hasil positif di sejumlah kota besar.
Sejarah memang tidak selalu berulang secara persis.
Bagi FamilyMart, pelajaran dari 7-Eleven adalah pengingat bahwa konsep populer saja tidak cukup tanpa ketahanan bisnis jangka panjang.

Kekuatan Besar di Balik itu ternyata di sokong oleh Wings Group
FamilyMart Indonesia bukanlah pendiri tunggal, melainkan mereka berada dalam ekosistem Wings Group.
Salah satu raksasa fast-moving consumer goods (FMCG) nasional.
PT Fajar Mitra Indah, adalah anak perusahaan dari Wings Group dan pemegang lisensi tunggal untuk mengoperasikan minimarket FamilyMart di Indonesia.
Langkah Wings Group ke sektor ritel bukanlah fenomena baru, melainkan bagian dari strategi jangka panjang yang dibangun di atas kekuatan utama perusahaan di industri FMCG.
Selama bertahun-tahun, Wings lebih dikenal melalui produk konsumsi massal.
Termasuk kolaborasi strategis mereka dengan Calbee Wings yang berdiri sejak 2014 untuk menggarap segmen makanan ringan.
Pada fase awal, kehadiran Wings di ranah ritel masih bersifat tidak langsung.
Sebelum ini wings group masih fokus pada penguasaan jalur distribusi saja.
FamilyMart menjadi langkah bisnis yang lebih berani mereka ambil.
Karena Wings kini terlibat langsung dalam operasional gerai.
Melalui FamilyMart, Wings tidak lagi berada di balik layar.
Sekarang, perusahaan ini terjun langsung mengelola operasional ritel hingga ke tingkat gerai.
Prospek Franchise FamilyMart Masih Menjanjikan kah bagi Investor?
Bagi investor yang mempertimbangkan membuka franchise FamilyMart, prospeknya dinilai masih positif.
Di tengah pertumbuhan minimarket yang belum menunjukkan tanda perlambatan, diferensiasi FamilyMart yang menyasar konsumen muda menjadi modal penting untuk menjaga relevansi dan pertumbuhan jangka menengah.
Konsep yang mengandalkan kopi terjangkau, ruang duduk yang luas, serta dominasi penjualan makanan dan minuman menempatkan FamilyMart pada posisi yang relatif berbeda dibandingkan pemain minimarket konvensional.
Strategi ini dinilai efektif terutama di kawasan perkotaan dengan mobilitas tinggi dan konsentrasi pekerja serta mahasiswa.
Dukungan Wings Group juga menjadi faktor penentu.
Kekuatan rantai pasok dan pengalaman panjang di sektor FMCG memberi safety net untuk meminimalkan risiko yang sebelumnya menjadi titik lemah pemain minimarket sebelumnya seperti 7-Eleven.
Jika dikelola secara efisien, kinerja finansial gerai FamilyMart diperkirakan mampu menyamai standar industri, di mana sebagian besar pemain minimarket lain mencatat break-even dalam waktu satu hingga dua tahun.
Dengan strategi yang tepat, FamilyMart masih membuka peluang besar untuk bertumbuh.
Bukan untuk semua orang memang, tetapi bagi pengusaha yang memahami lokasi, timing, dan perubahan perilaku konsumen ini merupakan peluang bisnis yang rasional dan terukur.
Jika kamu suka analisis bisnis begini, kamu wajib lihat juga artikel soal
ritel minimarket jaringan CPIN? Emang ada?
Disclosure: Analysis based on public data and industry reports. Not investment advice.